Mengenal Kampung Alam Malon
Kampung Alam Malon.
Geliat batik di Kampung Malon bisa dibilang memang belum lama. Warga terinspirasi oleh potensi alam di sekitar mereka. Sebab, kawasan perbukitan di Gunung Pati memang menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan. Seperti goa kreo, Waduk Jatibarang, agrowisata buah-buahan, serta pemancingan. Sehingga Kampung Malon pun ikut bersolek. Salah satunya dengan mengangkat batik tradisional sebagai wisata kerajinan.
Ada banyak kelompok batik di kampung ini. Masing-masing menampung sepuluh hingga dua puluh warga. Mereka kemudian diberi pelatihan, sampai bisa memproduksi batik khas kampung malon. motif batik yang dibuat lebih banyak bentuk flora dan fauna. Seperti buah dan daun asam, serta burung kuntul. Tapi ada juga batik yang mengangkat ikon kota Semarang. Seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, dan lain-lain,
Proses membatik di kampung malon lebih mengutamakan cara menulis dengan canting atau menggunakan alat cap. Cara ini lebih familiar bagi warga desa, terutama bagi mereka yang mulai untuk belajar batik. Bahan baku dan peralatan juga lebih murah dan gampang didapatkan. Meski memang, prosesnya lebih lama dan detil. Tapi hasil yang didapat lebih berseni karena benar-benar menggunakan ketrampilan untuk membuatnya.
Bahan yang dipakai untuk membatik adalah malam. Fungsinya untuk menutup pori-pori kain. Malam dicairkan di atas kompor kecil. Kemudian, ditampung dalam alat penulis bernama canting. Para pembatik kemudian menorehkannya sesuai dengan sketsa gambar yang sudah ada di permukaan kain .Setelah proses menulis selesai, batik yang motifnya sudah tertutup malam, dicelup ke dalam cairan pewarna. Kain yang tidak tertutup malam akan berubah warna sesuai bahan yang dipakai. Sedangkan bagian kain yang tertutup malam, akan tetap berwarna seperti semula. Selanjutnya, kain yang sudah dicelup dijemur. Setelah kering, dilanjutkan dengan proses pelorotan. Caranya dengan memasukkan kain ke dalam air panas. Warga melakukannya di halaman rumah. Bahan bakarnya dari ranting-ranting kayu yang mudah di dapat di kebun. Tujuan pelorotan adalah untuk mencairkan kembali malam yang menempel para kain. Dengan begitu, kini kain sudah punya motif sesuai dengan desain yang dibuat. Untuk menghasilkan variasi warna yang lain, maka batik harus diproses kembali ,seperti semula. Caranya dengan menutup semua motif yang didapat, kemudian mewarnainya. Begitu seterusnya sampai menjadi batik yang diinginkan. Adapun untuk pemasaran perajin masih mengandalkan kegiatan pameran.



Komentar